HARIANSINARPAGI.COM, Kota Tangerang | Isu dugaan penguasaan Masjid Al Muhajirin di Kompleks Buana Permai, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, ramai diberitakan hingga menimbulkan keresahan warga. Namun, tokoh masyarakat dan pengurus yayasan menegaskan kabar tersebut tidak benar.
Kabar miring itu mencuat setelah beredar pemberitaan mengenai pembentukan Yayasan Al Muhajirin baru yang disebut tidak melibatkan pendiri masjid maupun masyarakat. Kontroversi kian memanas karena pendiri yayasan lama yang berdiri sejak tahun 2000 disebut tidak diundang dalam pembentukan yayasan baru.
Ketua RW 09 Cipondoh, Mulyo Wibowo, menegaskan klaim bahwa yayasan menguasai aset masjid seluas 1.500 meter persegi adalah tidak benar. Ia menjelaskan lahan tersebut merupakan Fasilitas Umum (fasos-fasum) milik pemerintah yang memang diperuntukkan bagi sarana keagamaan dan pendidikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Tidak ada niatan yayasan untuk menguasai aset yang ada. Yayasan ini justru hadir untuk menyediakan sarana dasar bagi anak-anak, seperti pembangunan TPA dan TK yang berdiri atas swadaya masyarakat. Sejak komplek ini ada pada 1988, manfaatnya sudah banyak dirasakan warga,” jelas Mulyo, Minggu (28/9/2025) di Masjid Al Muhajirin.
Hal senada diungkapkan pengurus yayasan, Yohanes Supardi, yang menyebut aktivitas pendidikan di bawah yayasan berjalan baik dan terbuka.
“TPA berjalan dengan baik, saat ini ada 65 anak yang mengaji. Untuk TK ada 22 murid, dengan 3 pendidik TPA, 3 pendidik TK, dan 1 petugas kebersihan,” paparnya.

Yohanes menegaskan dirinya tidak pernah terlibat dalam urusan aset masjid.
“Nama saya juga ikut disebut dalam pemberitaan, padahal sedikit pun tidak ada niat untuk menguasai. Kami pengurus tidak mendapat honor sepeser pun. Ini murni dari umat untuk umat, dari masyarakat untuk masyarakat,” tegasnya.
Tokoh masyarakat, H. Sumitro, juga menilai isu yang beredar keliru dan tidak sesuai fakta.
“Kita sebagai orang muslim seharusnya bersyukur masih ada yang peduli dengan sarana ibadah. Mereka yang disebut dalam pemberitaan seolah ingin menguasai masjid, padahal justru mereka yang berjuang. Jadi, tidak ada yang menguasai. Memangnya siapa yang ingin menguasai?” ujarnya.
Ia menambahkan, pengelolaan masjid dilakukan secara terbuka melalui pemilihan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) setiap tiga tahun sekali.
“Setiap tiga tahun ada pemilihan DKM, pengurus dipilih langsung oleh masyarakat. Jadi, tidak ada yang menguasai. Mereka yang disebut malah sangat berjasa. Saya sendiri sudah 13 tahun jadi sekretaris DKM dan tidak pernah menerima gaji. Semua jelas dan transparan,” ungkap Sumitro.
Mantan Ketua DKM periode 2021–2023, Mahfudin, turut menyayangkan munculnya pemberitaan yang dianggap menyesatkan.
“Dengan bimbingan para tokoh, kami selalu berusaha menjaga ukhuwah islamiyah. Kami ikhlas, dan banyak pihak yang membantu. Kalau bukan kita, siapa lagi yang memakmurkan masjid,” tuturnya.
Mahfudin menegaskan kekompakan warga menjadi kunci kegiatan masjid.
“Saya kaget membaca pemberitaan itu, padahal kami selalu guyub. Setiap pagi ada kajian Subuh, Jumat malam ada pengajian, pengajian ibu-ibu, hingga ngopi bareng setelah kegiatan. Kekompakan ini saya bawa juga ketika menjadi pengurus DKM Al Azhar di Bandung,” jelasnya.
Sementara itu, warga setempat Asep Setiawan juga menilai keberadaan yayasan murni untuk kepentingan sosial dan pendidikan.
“Saya sebagai warga, meskipun bukan pengurus, melihat langsung bahwa yayasan ini tidak ada unsur komersial. Yang penting yayasan ini menjadi wadah untuk anak-anak. Saya heran kenapa tiba-tiba ramai, padahal saya lihat tidak ada masalah. Yang aktif pasti selalu diajak dalam kegiatan,” katanya.
Para tokoh masyarakat, pengurus yayasan, dan warga sepakat agar isu tersebut tidak menimbulkan kegaduhan. Mereka menegaskan Yayasan Al Muhajirin hadir semata-mata untuk kepentingan umat, menjaga kerukunan, serta memakmurkan Masjid Al Muhajirin yang telah menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial warga sejak lama.
Penulis : Supriyadi






