HARIANSINARPAGI.COM | Tangerang – Aroma panas tengah mengepul dari kawasan Foodcourt Aryana Karawaci. Bukan dari dapur para pedagang UMKM, melainkan dari pertikaian sengit antara PT Gama Putra Jaya dan pihak manajemen Aryana yang kini memasuki babak paling dramatis.
PT Gama, selaku mitra pengelola, mengungkapkan bahwa mereka diputus kontrak sebelum masa kerja sama genap berjalan, meski telah melakukan investasi miliaran rupiah dan memenuhi sejumlah kewajiban awal.

Lebih jauh, direktur utama PT Gama, Boss Dom, mengeluarkan pernyataan keras kepada media dan menuding pihak Aryana melakukan tindakan tidak profesional.
Dalam laporan resminya, PT Gama menegaskan telah menyetor Rp40 juta sebagai bagian dari kewajiban kerja sama. Bahkan, kedua pihak disebut telah menyepakati ulang mekanisme dan tenggat pelunasan selama dua bulan.
Namun secara mengejutkan, hanya lima hari setelah pembayaran masuk, surat pemutusan kontrak justru mendarat di meja PT Gama.
“Saya kaget dan kecewa. Alasannya berubah-ubah, seperti dicari-cari. Tidak ada itikad baik menjelaskan secara transparan,” ungkap Boss Dom dengan raut kecewa.
Pernyataan PT Gama bukan sembarang keluhan. Menurut mereka, perusahaan telah menanamkan investasi lebih dari Rp4 miliar, mencakup, renovasi bangunan foodcourt, pembangunan gedung dan arena billiard, instalasi sound system berkelas, penyediaan wahana hiburan seperti komedi putar, perbaikan berbagai kerusakan lama,
“Kami masuk untuk membenahi kawasan, bukan merusaknya. Tapi kami justru diperlakukan seperti tidak ada kontribusi sama sekali,” tegas Boss Dom.
Dalam nada yang lebih serius, Boss Dom juga mengungkap adanya dugaan intimidasi. Ia mengklaim rumahnya sempat didatangi sekelompok orang yang mengaku sebagai anggota ormas yang disebut-sebut terkait pihak Aryana.
“Saya jelas tidak nyaman. Ini bukan gaya komunikasi dalam bisnis. Ini sudah masuk ranah tekanan psikologis,” ujarnya.
Catatan redaksi: Dugaan intimidasi ini merupakan klaim sepihak PT Gama dan membutuhkan klarifikasi dari para pihak yang disebut.
Dengan seluruh dinamika tersebut, PT Gama kini secara terbuka meminta pengembalian seluruh dana investasi yang sudah dikucurkan.
“Kalau kontribusi kami tidak dihargai, paling tidak kembalikan hak kami. Jangan ada pihak yang merasa berkuasa lalu sewenang-wenang,” kata Boss Dom.
Ia juga meminta pihak Aryana menjelaskan kondisi sebenarnya kepada publik.
Polemik ini tidak hanya mengguncang manajemen, tapi juga para pedagang UMKM yang menggantungkan hidup di area foodcourt. Banyak dari mereka kini mengaku resah karena situasi yang tidak menentu.
“Kalau foodcourt tutup atau ganti pengelola, kami bingung mau ke mana. Ini tempat kami mencari makan,” tutur salah seorang pedagang yang enggan disebut namanya.
Hingga berita ini diterbitkan, manajemen Aryana belum memberikan klarifikasi terkait, alasan pemutusan kontrak, nilai-nilai komitmen yang diklaim dilanggar, serta dugaan intimidasi yang menyeruak ke publik.
Redaksi Hariansinarpagi.com terus mencoba menghubungi pihak Aryana dan akan menyajikan pemberitaan lanjutan untuk menghadirkan informasi yang seimbang, terbuka, dan akurat kepada masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penulis : Oling
Editor : Redaktur






