HARIANSINARPAGI.COM | Tangerang – Ramadan seharusnya menjadi bulan yang menghadirkan ketenangan, memperkuat iman, serta mempererat kebersamaan keluarga. Namun di sejumlah titik jalanan, suasana malam justru diwarnai deru knalpot balap liar, perang sarung yang membahayakan, hingga petasan yang mengancam keselamatan warga.
Fenomena ini bukan sekadar kenakalan remaja. Lebih dari itu, ada persoalan yang lebih dalam: krisis ruang ekspresi dan pencarian jati diri yang tidak menemukan arah yang tepat.
Sebagai aktivis pemuda, saya memandang peristiwa ini dengan keprihatinan. Anak-anak muda yang turun ke jalan bukanlah musuh masyarakat. Mereka adalah generasi penerus bangsa yang sedang mencari pengakuan, mencari identitas, dan mencari tempat untuk menyalurkan energi yang meluap.
Energi Besar, Arah yang Salah
Anak muda identik dengan semangat, keberanian, dan dorongan untuk diakui. Dalam sejarah bangsa ini, perubahan besar selalu lahir dari tangan pemuda. Namun energi yang besar tanpa bimbingan dapat berubah menjadi ancaman.
Balap liar bukan hanya soal kecepatan, melainkan pembuktian diri yang keliru.
Perang sarung bukan sekadar permainan tradisional, tetapi bisa berubah menjadi aksi kekerasan.
Petasan bukan sekadar hiburan, tetapi bisa melukai dan merusak.
Yang dipertaruhkan bukan hanya gengsi, tetapi keselamatan jiwa.
Ramadan sejatinya adalah momentum pengendalian diri. Ironis ketika bulan yang mengajarkan kesabaran justru diwarnai aksi-aksi yang mempertaruhkan nyawa.
Peran Keluarga dan Lingkungan
Kita tidak bisa hanya menyalahkan anak-anak. Orang tua adalah garda terdepan dalam pengawasan dan pembinaan. Ketegasan dalam menetapkan jam malam, membatasi penggunaan kendaraan, serta membangun komunikasi yang hangat adalah bentuk kasih sayang yang nyata.
Lingkungan juga memiliki tanggung jawab.Tokoh masyarakat, pemuda, dan aparat setempat perlu bersinergi menciptakan kegiatan positif yang mampu menjadi wadah ekspresi generasi muda. Kegiatan olahraga malam terorganisir, lomba kreativitas Ramadan, bakti sosial, hingga patroli sahur yang edukatif bisa menjadi alternatif yang lebih bermanfaat.
Jangan Tunggu Penyesalan
Setiap malam Ramadan seharusnya menjadi kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan keluarga. Jangan sampai takbir kemenangan di hari raya nanti diiringi tangis penyesalan akibat kelalaian kita hari ini.
Pemuda bukan ancaman. Mereka adalah harapan. Namun harapan itu harus diarahkan, dibimbing, dan diberikan ruang yang benar.
Ramadan adalah bulan kemenangan melawan hawa nafsu, bukan bulan adu keberanian di jalanan. Sudah saatnya kita bergerak bersama—keluarga, masyarakat, dan pemuda itu sendiri—untuk mengembalikan marwah bulan suci sebagai bulan kedamaian dan keselamatan.
Karena masa depan bangsa ini tidak boleh dipertaruhkan di atas aspal jalanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penulis : Red
Editor : Redaktur






