Pilihan Sulit Warga Karawaci: Naik KRL Kena Gencet, Naik Bus Kena Macet

Rabu, 29 Januari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

HARIANSINARPAGI.COM, TANGERANG | Warga Karawaci yang beraktivitas di Jakarta menghadapi dilema transportasi sehari-hari yang tak kunjung usai. Pilihannya hanya dua: naik bus dengan risiko terjebak macet berjam-jam atau naik KRL dengan risiko berdesakan di tengah padatnya penumpang.

Kemacetan masih menjadi tantangan utama meskipun berbagai moda transportasi umum, seperti Transjakarta, MRT, LRT, dan KRL, terus diperbanyak. Namun, bagi banyak pekerja dari Karawaci, perjalanan pulang-pergi tetap menjadi perjuangan, terutama bagi mereka yang mengandalkan bus umum seperti Transjakarta atau Transjabodetabek Damri.

Seorang pengguna Transjabodetabek Damri mengisahkan perjalanan dua jamnya setiap hari dari Jakarta ke Karawaci. Rute tol Jakarta-Tangerang, yang seharusnya bebas hambatan, justru sering kali macet parah di titik-titik seperti Harmoni, Grogol, hingga sepanjang tol itu sendiri. Meski macet menjadi bagian dari rutinitas, kenyamanan duduk di bus dianggap lebih baik daripada harus berdiri berdesakan di KRL.

Bagi yang ingin menghindari macet, KRL menjadi pilihan yang lebih cepat. Rute Duri-Tangerang, yang hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam, menawarkan solusi lebih cepat dibandingkan bus. Namun, tantangan lain muncul: desakan penumpang yang luar biasa. Di Stasiun Duri, penumpang harus berpindah jalur dan sering kali harus berlarian agar tidak tertinggal kereta.

Baca juga:  Ramadan di Persimpangan Jalan: Ketika Energi Pemuda Salah Arah

Bagi banyak warga Karawaci, kenyamanan menjadi pertimbangan utama. Akhirnya, Transjabodetabek Damri dengan rute Karawaci-Kemayoran sering menjadi pilihan ideal. Tarif Rp15.000 dinilai masih terjangkau, jadwal keberangkatan tepat waktu menjadi keunggulan, dan layanan berbasis digital seperti grup informasi lokasi bus serta pembayaran non-tunai melalui QRIS memudahkan pengguna.

Namun, perjalanan menggunakan bus tetap tidak lepas dari kemacetan yang melelahkan. “Istilah ‘tua di jalan’ itu benar adanya,” ungkap seorang pengguna setia Transjabodetabek. Kemacetan yang memakan waktu berjam-jam tetap menjadi tantangan, bahkan bagi moda transportasi yang dianggap lebih nyaman.

Baca juga:  Putusan MK Jadi Tameng Kuat Pers, Wartawan Tak Bisa Langsung Dipidana

Dilema ini menjadi bagian dari keseharian warga Karawaci. Naik bus berarti siap “tua di jalan” akibat macet, sementara naik KRL berarti harus tahan “kena gencet” di gerbong padat. Hingga kini, mereka hanya bisa menjalaninya dengan pasrah sambil berharap solusi transportasi yang lebih baik. (Senny)

Sumber Berita : Artikel ini dikutip dari MOJOK.CO.

Berita Terkait

Ramadan di Persimpangan Jalan: Ketika Energi Pemuda Salah Arah
Nasi Goreng Sederhana, Sajian Praktis untuk Keluarga
Legenda Nyi Roro Kidul: Sang Putri dari Pantai Selatan
Pendidikan Tinggi: Kunci Masa Depan Cerah dan Kemajuan Bangsa
Berita ini 54 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 22 Februari 2026 - 19:00

Ramadan di Persimpangan Jalan: Ketika Energi Pemuda Salah Arah

Sabtu, 1 Februari 2025 - 12:00

Nasi Goreng Sederhana, Sajian Praktis untuk Keluarga

Rabu, 29 Januari 2025 - 11:47

Pilihan Sulit Warga Karawaci: Naik KRL Kena Gencet, Naik Bus Kena Macet

Sabtu, 4 Januari 2025 - 21:14

Legenda Nyi Roro Kidul: Sang Putri dari Pantai Selatan

Selasa, 10 Desember 2024 - 23:10

Pendidikan Tinggi: Kunci Masa Depan Cerah dan Kemajuan Bangsa

Berita Terbaru

Pendidikan

Mahasiswa UNPAM Serang Ikuti Pelatihan Paralegal LBH Polem

Selasa, 23 Jun 2026 - 21:55

Uncategorized

PORSAB CUP 2026 RESMI DIBUKA, 16 TIM SEPAK BOLA PUTRA BERLAGA

Senin, 22 Jun 2026 - 20:46

Hukum dan Kriminal

HEBOH! Tumpukan Batu Es Misterius Ditemukan di Tengah Hutan Jasinga

Senin, 22 Jun 2026 - 13:32