HARIANSINARPAGI.COM, TANGERANG | Aktivitas mencurigakan terjadi di SPBU Pertamina 34.15520 beralamat di Jalan Insinyur Sutami, Pagedangan Udik, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, Banten. Pada Kamis (20/11/2025) sekitar pukul 22.30 WIB, terpantau kendaraan bermotor rakitan berjenis “Thunder Tanpa Plat Nomor” keluar masuk area SPBU dan dengan leluasa mengisi bahan bakar jenis Pertalite.
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa praktik tersebut diduga melibatkan oknum petugas SPBU berinisial Axxxxx. Kendaraan sepeda motor “Thunder Tanpa Plat” tersebut dilayani tanpa hambatan dan melakukan pengisian Pertalite sebesar Rp150.000, sehingga aktivitas pengisian BBM tetap berjalan lancar.
Jika benar terjadi, praktik ini dapat merugikan masyarakat luas. Pertalite merupakan bahan bakar bersubsidi yang tidak diperbolehkan digunakan untuk pengisian hingga Rp150.000 pada kendaraan roda dua, baik pribadi maupun angkutan umum. Masuknya kendaraan pribadi, apalagi tanpa plat nomor, dan mengisi dalam jumlah besar berpotensi membuat stok BBM subsidi di SPBU cepat habis sehingga warga sekitar kesulitan mendapatkan bahan bakar sesuai kebutuhan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, penggunaan kendaraan motor rakitan yang tidak standar dan tidak dilengkapi plat nomor juga menimbulkan risiko keselamatan. Muatan berlebih dan kondisi kendaraan yang tidak layak jalan dapat menyebabkan kecelakaan serta memperparah kemacetan di jalur pedesaan.
Secara finansial, penyalahgunaan distribusi BBM subsidi menimbulkan kerugian bagi negara. Subsidi Pertalite diberikan pemerintah dengan selisih harga yang cukup signifikan dibandingkan harga keekonomian. Jika satu unit “Thunder Tanpa Plat Nomor” bisa menampung puluhan liter dan melakukan pengisian berulang, maka dalam sehari potensi kerugian dapat mencapai ratusan ribu rupiah hanya dari satu kendaraan.
Saat awak media melintas di lokasi SPBU tersebut untuk melakukan kontrol sosial dan investigasi, operator SPBU berinisial Axxxxx memberikan penjelasan mengenai pengisian Pertalite Rp150.000 kepada motor “Thunder Tanpa Plat” yang disebut sebagai motor gede (MOGE). “Kalau dia ngisi, cuma ngisi doang, tutupnya,” ujarnya.
Sementara itu, Bang Gxxxxxxx, salah satu warga yang berada di lokasi SPBU Kronjo, menyampaikan bahwa pengawasan di SPBU tersebut tampak longgar. “Ya nggak ada pengawas. Biasa begitu, keluar makan tapi agak lama. Dia biasanya begitu. Kita juga nggak pernah tahu pasti,” ucapnya. Ia juga menyebut adanya sosok berinisial Ixxx yang disebut-sebut sebagai pihak yang memegang kendali SPBU Kronjo dan Cisoka. “Kalau itu pak Ixxx. Soalnya gonta-ganti melulu. Pak Ixxx itu sebagai apa, sih? Yang megang Kronjo dan Cisoka. Manager mungkin, atasan, pengawas berarti ya. Itu yang kita tahu,” tambahnya.
Apabila praktik ini terjadi secara berulang di banyak SPBU, kerugian subsidi negara bisa menembus miliaran rupiah setiap bulan. Dana subsidi yang seharusnya meringankan beban masyarakat justru bocor kepada pihak-pihak yang tidak berhak.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola SPBU maupun Pertamina belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan penyalahgunaan distribusi BBM subsidi tersebut.
(Luna)
Penulis : Luna






