Aktivis Muda NU Kecam Tindakan Brutal Polisi, Bentuk Kejahatan Kemanusiaan

Jumat, 29 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

HARIANSINARPAGI.COM, Jakarta | Aktivis Muda Nahdhatul Ulama, A. Fachrudin menyoroti kondisi terkini aksi yang terjadi di Jakarta, tindakan polisi kepada masyarakat yang ikut terlibat dalam Aksi Demonstrasi dinilai brutal.

Terlebih jatuhnya korban nyawa pria berjaket ojek online yang terlindas kendaraan taktis barracuda milik Brimob Polri saat aksi pengamanan demonstrasi di Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta pada Kamis (28/08/2025) malam.

Menurutnya dalam praktek di lapangan, pelaksanaan tugas dan fungsi kepolisian kerap kali dilakukan dengan cara-cara “kekerasan” dalam rangka menjaga ketertiban hukum.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fachrudin mengatakan konsep kekerasan diyakini tidak sejalan dengan iklim demokrasi, termasuk dalam hal penegakkan hukum.

“Penegakkan hukum dilaksanakan tidak dengan melanggar hukum itu sendiri. Karena itu, penting melakukan kajian terhadap pengertian kekerasan secara juridis, filosofis dan sosial.” Ucapnya, Jum’at (29/08/2025) dini hari.

Baca juga:  GP Ansor Kota Tangerang Tegas: Usut Tuntas Persekusi Kader Banser, Hukum Pelaku Tanpa Pandang Bulu

Ia mengungkap, Amnesty International Indonesia mencatat sejak Januari hingga November 2024 ada 116 kasus kekerasan yang diduga melibatkan kepolisian. Selain itu, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) juga merilis data serupa. Dari Juli 2023 hingga Juni 2024, Kontras mencatat ada 645 peristiwa kekerasan yang melibatkan anggota Polri, dengan 759 korban luka dan 38 korban tewas.

“Hak untuk hidup dilindungi oleh hukum kebiasaan internasional (international customary law), dan oleh Pasal 3 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang menyebutkan bahwa setiap orang mempunyai hak atas kehidupan, kebebasan dan keamanan pribadi. Demikian pula dilindungi oleh Pasal 6 Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik.” Terangnya.

Baca juga:  Truk Box Hilang Kendali Tabrak Pohon dan Mobil Parkir di Curug, Tidak Ada Korban Jiwa

Lanjut Fachrudin, disamping itu Kovenan Internasional tersebut mengharuskan hak untuk hidup dilindungi oleh hukum, dan melarang perampasan nyawa dengan sewenang-wenang.

“Pelaksanaan kekuasaan dengan menggunakan kekerasan dapat mempengaruhi hak yang paling fundamental yaitu hak untuk hidup.” Katanya.

Ia memaparkan bahwa Hak untuk hidup mendapatkan jaminan dalam konstitusi yakni Pasal 28 A dan 28 I UUD 1945.

“Penggunaan kekerasan oleh Polri yang menyebabkan pelanggaran hak untuk hidup merupakan salah satu bukti kekalahan tujuan utama kepolisian, yaitu menjaga keselamatan dan keamanan sesama orang.” Tegas Fachrudin.

Extra judicial killing atau pembunuhan diluar hukum terkait dengan perampasan nyawa dengan sewenang-wenang yang dilakukan oleh Polisi, merupakan suatu bentuk terorisme negara (state terorism). Dalam konteks penegakan hukum oleh anggota polisi di era demokrasi harus berdasarkan pada prinsip-prinsip democratic policing yakni pemolisian yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi.

Baca juga:  Bhabinkamtibmas Desa Kadu Jaya Hadiri Musyawarah Desa RKP 2026 dan DU-RKPDes 2027

“Penegakan hukum harus seiring dan sejalan dengan semangat demokrasi itu sendiri. Penegakan hukum oleh polisi tidak harus melanggar prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia dan demokrasi. Dengan demikian, konsepsi keamanan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi kepolisian adalah perlindungan terhadap hak-hak masyarakat sipil. Antara Hak Asasi Manusia dan Hukum memiliki hubungan yang erat.” Tambahnya.

Ia menegaskan bahwa penegakan HAM selalu dilandasi oleh aturan hukum, sebaliknya dalam konteks negara hukum mewajibkan pemerintah melakukan penegakan dan perlindungan HAM kepada warga negara.

“Oleh karena itu, cara-cara kekerasan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi kepolisian adalah bentuk kejahatan.”pungkas Fachrudin.

Penulis : Supriyadi

Berita Terkait

Dua Excavator Terus Bekerja di Sindang Jaya, Status Izin Galian Tanah Masih Dipertanyakan
Bawa Nama SMAN 32, KBM Akui Legalitas Masih Dalam Proses
Bantu Mediasi Kasus Kecelakaan, Pimpinan Redaksi BantenNet Diduga Jadi Korban Penganiayaan di Serpong
Diduga Dipukul dengan Helm, Dua Warga Curug Jadi Korban Pengeroyokan Oknum Matel
Muncul Klaim Aset TNI AD dalam Surat BPN, Warga Rancagong Pertanyakan Legalitasnya
Proyek U-Ditch DDS di Desa Legok Diduga Abaikan Standar Teknis dan K3
Camat dan PPTK Bungkam, Proyek Legok Disorot
Empat Komitmen Diduga Diabaikan, Warga KP Ledug Desak Penindakan Pasar Induk Jatiuwung
Berita ini 101 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 22:27

Dua Excavator Terus Bekerja di Sindang Jaya, Status Izin Galian Tanah Masih Dipertanyakan

Sabtu, 13 Juni 2026 - 00:16

Bawa Nama SMAN 32, KBM Akui Legalitas Masih Dalam Proses

Rabu, 10 Juni 2026 - 20:53

Bantu Mediasi Kasus Kecelakaan, Pimpinan Redaksi BantenNet Diduga Jadi Korban Penganiayaan di Serpong

Rabu, 10 Juni 2026 - 11:55

Diduga Dipukul dengan Helm, Dua Warga Curug Jadi Korban Pengeroyokan Oknum Matel

Rabu, 3 Juni 2026 - 19:48

Muncul Klaim Aset TNI AD dalam Surat BPN, Warga Rancagong Pertanyakan Legalitasnya

Berita Terbaru